CASPO DISAMBUT BENCONG HORNY

Kemarin, Caspo telah melaksanakan hijrahnya ke bumi Pasundan, Bandung tepatnya. Perjalanan Jakarta – Bandung yang biasanya singkat, terasa sangat lambat dan melelahkan. Maklum kenangan – kenangan indah selama di Jakarta satu persatu harus ditinggalkan mulai dari titik start trafel yang ditumpanginya. Selama dalam perjalanan, dipelupuk matanya episode demi episode peristiwa yang telah terjadi selama ini seolah diputar ulang. Bangga, indah, haru, marah, manis, pahit teramu menjadi bianglala yang demikian indah. Dan…..Akhirnya……caspo tertidur.

Cukup pulas Caspo melanglang buana di alam mimpi. Tak terasa perjalanan sudah hampir setengahnya, udara dingin khas pegunungan sudah menusuk tulang. Kerlap – kerlip lampu di kejauhan bagai kunang –kunang, indah sekali. “ Andai perjalanan ini hanya untuk sesuatu yang sementara yang tak perlu harus berpisah dengan orang – orang yang aku sayangi, pastilah lebih indah semua pemandangan malam ini “, gumam Caspo dalam lamunannya. Mobil Trafel terus melaju meniti tanjakan dan turunan di sepanjang jalan tol Cipularang.

Sampailah sudah Caspo di Bandung. Sebuah rumah makan jadi pemberhentian terakhir. “ Kebetulan nih, dari tadi aku belum makan, pucuk dicinta ulam tiba,” pikir Caspo sambil menapaki tangga. Udara dingin Bandung menambah riangnya cacing – cacing yang ada di perutnya. “ Teh, tolong pesan ayam goreng dada sama lalapan. Minumnya teh manis hangat,” Caspo memesan makanan kepada seorang pelayan. Tak selang lama, pesanan itu telah dating dan siap untuk disantap. Dalam konsentrasinya melahap ayam goring, sekilas terlihat seseorang perempuan mondar – mandir di sebelah meja Caspo. Entah sudah yang keberapa kali, dan suatu ketika Caspo ingin mengetahui lebih jelas siapa yang suka mencuri pandang padanya. Astaga naga……, amit – amit jabang bajul….gak tahunya dia seorang banci. Merasa diperhatikan semakin menjadi saja lirikan mata dan senyum nakalnya. Alaaamaakk………………………………

Betapa kaget Caspo saat akan membayar pesanan makanannya, ternyata si Bencong sudah ada di balik meja kasir. Melihat Caspo yang membayar, kilatan matanya seolah kucing yang hendak melahap mangsanya……dan….. “ hai mas, baru nyampe ya, “ sapanya dengan kemayu. “Iya “, jawab Caspo singkat sambil menunggu kembalian. “ Kerja atau Cuma main di Bandung ?,”. “ kerja “. “ Kerjanya dimana ? “, Tanya si Bencong seperti rentetan senjata otomatis. “ Ada dech “, jawab Caspo sekenanya sambil menerima uang kembalian. “ Mas, main kesini lagi ya….kalau ada di Bandung “, si Bencong berusaha sok akrab. Tanpa menjawab lagi Caspo segera meninggalkan meja kasir. Namun belum juga badannya berputar separo lingkaran….. “ Mas, ganteng dech… “, kata si Bencong dengan centilnya. Caspo terus ngeloyor pergi sambil ngedumel dalam hati “ Nasib – nasib, aku disambut oleh mojang Bandung yang terkenal kece – kece, eee…eee malah ketemu bencong jablay. Hiiiiii……”, sepontan tubuh Caspo bergidik seperti iklan minuman di TV. Caspo…Caspo…..

CALEG SERIBU TIGA

Tahun 2009 disebut banyak orang pinter sebagai tahun PEMILU. Memang pada April nanti akan dimulai hajatan demokrasi rakyat Indonesia. Namun tiupan angin sorga dari partai peserta Pemilu dan calegnya telah menggeser angin musim penghujan sejak bulan – bulan lalu. Begitupun mata kita dimanjakan dengan warna – warni reklame senyum simpati iklan diri dari para kandidat disepanjang jalan. Kita semau tidak tahu darimana mereka semua kok tiba – tiba SKSD ( sok kenal sok dekat ). Itulah resiko dari sebuah kata DEMOKRASI.

Dalbo, tetangga sekaligus teman Caspo yang terkenal suka kemlinthi, kurang gaul dan yang jelas tak diketahui status ijasahnya, tak mau ketinggalan. Di depan rumahnya telah berkibar bendera Partai bergambar SATE JENGKOL lengkap dengan foto diri menggunakan Kopyah dan sunggingan senyum simpati,….cliing !. Yang lebih mengagetkan sederet gelar disusun dengan rapi di belakang namanya. Entah darimana semua itu dia dapat. Ya…Dalbo telah NYALEG. Saat Caspo sedang melintas, terlihat Dalbo sedang duduk di kursi dikelilingi beberapa orang yang dengan hikmatnya mendengarkan orasi politiknya. Caspo tergelitik untuk ikut bergabung sekedar ingin tahu isi pidato Dalbo. “ Sodara-sodara, nanti jangan lupa pilih saya. Kalau saya terpilih jadi anggota legislative, tempat mangkal si Kriwil akan saya ijinkan diperluas,…..kamu Mbul, pandangannya tertuju pada si Gembul yang sejak tadi melongo, kamu tak angkat jadi pimpinan juru parkirnya, terus buat si Bedul…..jangan khawatir kamu kebagian jadi kasir. Ok ? “ kata Dalbo mantap. Ketiga orang yang disebut tadi sontak ceria airmukanya mendengar janji si Dalbo. Melihat tanggapan positif dari audiens, Dalbo semakin bersemangat berorasi menyanyikan janji - janji.

“Interupsi !”. Hampir serempak semua pandangan mengarah ke datangnya suara itu. Caspo Nampak berdiam sambil masih mengangkat tangannya. “ Gini Bo, dari tadi kok gak ada misi dan visimu kalo jadi anggota legialtif yang terhormat ?”, Tanya Caspo tanpa menunggu komando. Sekilas Nampak kaget muka Dalbo. Sambil mendekat ke telinga Kriwil, berbisiklah dia,” Wil, apa itu misi dan visi.kamu jualan gak ?”. Kriwil yang mendapat pertanyaan Cuma bloon, perasaan dia gak jual itu di warung pecel lelenya. Melihat gelagat itu, Dalbo lalu menggilir pendengar setia lainnya. Hanya gelengan ragu jawabannya. Akhirnya……. “ Po, binatang apa itu yang kamu Tanya tadi ?”. “ Gini Bo, visi dan misi itu adalah ……”, Caspo menjelaskan panjang lebar tentang arti dan pentingnya visi dan misi bagi seorang Caleg. Situasi menjadi terbalik seketika seolah Caspo yang nyaleg.

Sambil berjalan pulang, benak Caspo bertanya “ Apakah kualitas para Caleg yang lainnya juga sama seperti Dalbo yang maju tanpa bekal dan hanya menjadi korban hingar bingar demokrasi. Lebih celaka lagi kalau mereka hanya ingin mencari keuntungan materi dari modal yang sudah dikeluarkan saat menjadi anggota dewan yang terhormat nantinya. Apakah juga mereka tetap akan tersenyum ramah terhadap rakyat kecil yang diwakilinya, atau senyumnya hanya kepada mereka yang bawa upeti, ya… ..Semoga mereka semua masih menggunakan nurani dan tetap tahu diri “.

Caspo hijrah…

Hari - hari belakangan terasa cepat bagi Caspo. Maklum, ini adalah saat - saat terakhir bagi Caspo menikmati suasana kantor yang selama ini sudah sangat melekat dalam kesehariannya. Berat memang jika harus meninggalkan kehangatan rekan - rekannya meski terkadang tingkah laku mereka menjengkelkan. Namun Caspo yakin mereka semua sayang padanya. Ya, esok lusa Caspo mesti hijrah ke kota lain untuk menjalankan tugas baru.

“Tak terasa, sudah hampir satu setengah tahun aku disini. semua berlalu begitu cepat “, gumam Caspo dalam lamunannya. Banyak peristiwa yang terjadi, salah satu yang tak mungkin dilupakan saat beberapa bulan lalu dia bisa pergi ke luar negeri, yang selama ini merupakan suatu hal yang mustahil baginya. Meskipun cuma ke Afrika. Yang sangat mengesankan lagi adalah dia dapat bertemu dengan orang - orang penting negeri ini. Peristiwa lain yang tak kalah penting adalah  Caspo dapat menemukan sahabat kecilnya yang sudah 17 tahun tidak bertemu dan memperkenalkannya pada dunia baru, dunia maya. Membuat Caspo melek Internet. Berawal dari itu kini diapun dapat menemukan sahabat - sahabat lama waktu masih sekolah di kampung yang selama ini terpisah jarak dan waktu. Hari - harinya pun diisi dengan chatting seolah mengulang kembali saat - saat masih ABG, nostalgila, memang gila kalau sudah bercanda di YM. Senyum kecil tersungging, bila mengingat semua itu. Semua memang indah dan membahagiakan, tapi sebentar lagi harus dia tinggalkan. Akankah semua dapat terulang lagi, sementara dia belum tahu apa yang terjadi di tempat tugas yang baru.

Pesta pasti berakhir, demikian kata pepatah. Dan akhir itu semakin dekat…….berat memang tapi semua harus dijalani untuk lebih memaknai hidup ini.

KETIKA GEMBUL MAU KE GAZA

Beberapa hari belakangan ini dunia seolah terhipnotis oleh pemberitaan tentang situasi di Palestina yang dibombardir oleh Israel dari tiga penjuru, darat-laut-udara. Kekuatan yang sama sekali tidak seimbang mengakibatkan Korban jatuh begitu banyak khususnya penduduk sipil Palestina. Hampir seluruh penjuru dunia bereaksi menentang dan mengecam serangan yang dilakukan oleh Israel, tak ketinggalan di Negara kita tercinta Indonesia. Berbagai elemen masyarakat dari perorangan, ormas sampai dengan partai ramai – ramai menunjukkan simpatinya. Bahkan ada yang sudah menghimpun sukarelawan – sukarelawan untuk diterjunkan di medan perang dalam rangka membantu perjuangan rakyat Palestina.

Gembul, teman Caspo adalah salah satu yang sudah mendaftarkan diri menjadi Sukwan. Posturnya yang kebulat-bulatan mirip Blackberry Bolt, menjadi modal utamanya selain rasa solidaritas yang tinggi sebagai sesama manusia. Di setiap kesempatan selalu saja membicarakan konflik yang sedang terjadi di Tepi barat tersebut, dan membanggakan dirinya sebagai seorang sukarelawan. Suatu ketika disaat Gembul sedang berkoar tentang Palestina di warung si Kriwil, Caspo datang untuk sekedar minum teh manis panas karena udara malam itu memang cukup dingin. Sambil menunggu pesanannya, Caspo memperhatikan Gembul yang sedang berapi-api bercerita tentang konflik Palestina kepada beberapa orang yang kayaknya jarang nonton Koran bin baca televisi. “ Tau gak kamu, kemarin tentara Israel menghancurkan sebuah rumah sakit anak, menghancurkan sekolah yang jadi tempat pengungsian. Banyak sekali korban berjatuhan, tak terhitung “ celotehnya dengan mata nanar dia pandangi orang – orang yang ada di depannya. “ Maka dari itu ayo kita rame-rame mendaftar jadi sukarelawan untuk menghadapi Israel, kayak aku gini !”, kata Gempul sambil menepuk dadanya yang tebal karena tumpukan lemak. Orang – orang di depannya saling berpandangan dengan ekspresi muka yang tak jelas.

Sambil menikmati teh manis panasnya, Caspo mulai terusik untuk bertanya beberapa hal kepada Gembul. “Mbul, aku mau tanya nih, boleh gak ? “ teriak Caspo memotong pidato Gembul. Dengan gerakan tangan Gembul mempersilakan. “ Gini Mbul, Israel itu kan pake senjata-senjata modern, terus kalau kamu kesana pake senjata apa ? lha wong kemarin kamu dikejar anjing saja kamu gak bisa lari bagaimana kamu mau menghindari rudal Israel ?” Tanya Caspo sedikit meledek. “ Po, kamu jangan remehkan Gembul, gini – gini pernah ikut MP. Mau apa, jurus bangau, jurus macan apa jurus monyet itikiwil ? “ jawab Gembul sambil memperagakan jurus yang dimakasud. “ Boleh kamu pake MP, tapi kalau Israel pake MP5 ( jenis senapan otomatis http://en.wikipedia.org/wiki/Heckler_&_Koch_MP5 ) bagaimana ? “, jawab Caspo gak mau kalah. Kali ini Gembul gak bisa jawab. Skak mat. Perlahan dia duduk kembali di kursinya sambil tolah – toleh.

Melihat kondisi itu Caspo beranjak dari tempatnya mendekati kelompok Gembul. Untuk menyelamatkan Gembul dari cemoohan, Caspo mulai bicara, “ Mbul, rasa solidaritas melihat apa yang terjadi di Palestina itu memang suatu keharusan sebagai sesama umat manusia. Tapi kita juga harus proporsional dan rasional. Disana itu sedang perang, kedua pihak pake senjata modern yang tinggal pencet dari jauh, lha kalau kamu kesana Cuma modal nekat tanpa punya ketrampilan dan pengetahuan itu namanya konyol. Belum lagi bicara tentang kondisi cuaca, sangat beda dengan di sini jangan sampai kamu kerokan dulu sebelum maju perang karena masuk angin. Disana juga gak ada sate Klatak dan bandeng kropok kesukaanmu itu, makanan susah. bisa-bisa kamu mati kelaparan. Yang pasti lagi nih, disana rumah sakit pada di bom, jadi kalau asam lambungmu kumat bisa gawat. Ngerti ? “. Gembul hanya bisa melongo seolah gak percaya. “ Makanya Mbul, sebelum memutuskan segala sesuatu mesti mengerti dulu segala sesuatunya. Toh, tidak harus ke sana ikut bertempur untuk menunjukkan solidaritas dan simpati kita. Masih banyak cara yang bisa kita tempuh”, lanjut Caspo. Tiba - tiba …….“ Mbuuuu…..ll ! pulaaaang, kethek mu lepas lagi tuuuuh !”, terdengar suara perempuan dari kejauhan. Tanpa pikir panjang Gembul langsung loncat dari tempat duduknya, kalau tidak bisa – bisa perang Israel – Palestina pindah ke rumahnya.

Krisis Global ?…..makanan apa itu,bos?

Semalam aku makan pecel lele di warung tenda pinggir jalan langgananku. Ya, memang sejak beberapa bulan yang lalu aku lumayan sering makan di tempat ini. Masakannya cukup enak sesuai dengan lidahku, macam masakannya juga banyakselain pecel lele juga ada beberapa masakan seafood dan yang pasti harganya sedang untuk ukuranku. Seperti biasa ketika aku masuk mereka selalu menyapaku sekaligus menjadi sebuah pertanyaan klasik, Kepiting, Bos ?. YAhh….aku dipanggil bos sama mereka. Selain suka pecel lelenya aku memang lumayan sering memesan Kepiting asam manis atau kepiting saos padang yang harganya memang paling mahal dibandingkan dengan jenis masakan yang ada di warung itu.

Aku mengambil duduk agak ke sebelah pojok biar bisa sambil cuci mata atau memperhatikan beberapa pasang ABG yang lagi bermadu kasih ketawa-ketiwi. Si Kriwil begitu aku memanggilnya, karena rambutnya yang mirip Giring Nidji, menghampiriku dengan menenteng daftar menu, nota  pesan dan pulpen. Silakan, Bos. Sambil memilih menu makan malamku iseng - iseng aku ngobrol sama SI kriwil. ” Wil, kamu ngerti gak Krisis global ?”. ” Ndak bos. makanan apa itu ? “jawabnya dengan mimik muka antara bingung dan kaget. ” krisis global itu, kata orang - orang pinter adalah kesulitan ekonomi  yang sekarang sedang melanda seluruh dunia “. jawabku dengan bahasa yang sangat sederhana dan singkat. ” Ooo…, tak pikir Bos mau pesen makanan itu”. ” Lha kamu kena krisis gak ?”tanyaku lagi. “kalau bagi aku yang namanya krisis yo, daganganku gak ada yang laku”jawabnya dengan logat Lamongan yang kental dan polos. “lha bagaimana caranya biar daganganmu tetep laku Wil ?, sementara kalau aku lihat yang bikin warung kayak kamu gini kan buanyak” tanyaku agak serius. ” Lha itu bos, makanya beberapa hari lalu aku bikin menu baru, Lele kremes, Ayam goreng krmes, bebek goreng kremes “, jawabnya sambail sedikit promosi. Mendengar itu aku cuma manggut - manggut. Memang sejak dari aku masuk tadi aku perhatikan ada tampilan yang aneh dari masakan si Kriwil.Ternyata dia punya inovasi baru untuk mendongkrak dagangannya. Cerdas juga ini bocah.

Tak berapa lama pesananku Lele Kremes datang. sambil menikmati menu baru itu aku berpikir, ternyata orang - orang seperti Kriwil tidak merasakan secara langsung dampak dari krisis global yang telah membangkrutkan Lehman Brother. Jangankan kena dampak, ngerti saja enggak. Warung pecel lelenya tetap saja penuh pelanggan apalagi dengan bentuk sajian baru hasil inovasinya. Ditengah persaingan yang begitu ketat antar pedangang Pecel lele, dia mampu bertahan. Siapa yang pernah menyangka bahwa Kremes yang selama ini identik dengan nama sajian ayam goreng khas restoran besar dapat diaplikasikan dengan pecel lele goreng. Sedikit sentuhan inilah yang menjadikan orang menjadi penasaran untuk mencobanya.  Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kita tidak mencoba seperti Si Kriwil untuk berani berinovasi dan berimprovisasi dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar kita untuk sekedar bertahan dari dampak krisis dunia yang katanya sudah sedemikian menakutkan. Satu contoh lagi yang mungkin dapat menambah referensi tentang hasil dari sebuah inovasi, Singkong Goreng Keju. Beberapa tahun yang lalu, singkong dan keju sempat menjadi simbol perbedaan status sosial. Ingat lagu Singkong dan Kejunya Ari Wibowo. Tapi setelah mereka di satukan ternyata enak juga dan aku lihat banyak gerobak - gerobak yang menjual itu.

Tak terasa nasi dipiringku sudah habis. Tapi Lele kremesku masih separo, kayaknya sayang kalau gak habis. Dan akhirnya….” Wil, nasi tambah satu, jangan lupa sambelnya juga yo !”